Susur Muara Sebelum Pasang Naik
Muara punya dua wajah, dan keduanya ditentukan oleh jam. Saat surut, alur air menyempit jadi lorong berpasir yang terbaca dari jauh. Saat pasang, lorong itu lenyap dan yang tersisa hanya hamparan cokelat tanpa petunjuk. Karena itu perjalanan menyusur muara selalu dimulai dari tabel pasang-surut, bukan dari peta.
Kayuhan pertama terasa berat. Bukan karena arus, melainkan karena badan belum menemukan ritmenya. Setelah dua puluh celupan, bahu mulai mengerti: bilah kiri masuk, bilah kanan bersiap, dan lambung meluncur lurus tanpa perlu dikoreksi. Burung air terbang rendah di depan haluan. Bakau lewat pelan di kedua sisi.
Rasa yang serupa muncul saat membaca kisah lintas benua di rubrik Internasional: petanya luas, tetapi yang menentukan tetap langkah-langkah kecil yang diulang dengan sabar. Di muara, langkah kecil itu bernama satu celupan dayung. Titik putar balik sudah ditetapkan sejak di darat, dan ketika air mulai naik di bawah lambung, haluan sudah menghadap pulang.
